Selasa, 19 Mei 2020

Bulan Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri di banding bulan-bulan yang lain. Bulan Ramadhan merupakan kesempatan besar sekaligus menjadi acuan bagi seluruh umat muslim untuk kembali meningkatkan kuantitas dan kualitas dalam beribadah.
Seperti dalam sebuah hadits dikatakan, “...Barang siapa yang melakukan kebaikan (ibadah sunah) di bulan itu pahalanya seperti melakukan ibadah wajib dibanding bulan yang lainnya. Dan barang siapa melakukan kewajiban di dalamnya, maka pahalanya seperti melakukan 70 kewajiban dibanding bulan lainnya...” (HR. Ibnu Huzaimah)
Oleh karena itu, seringkali umat muslim lebih termotivasi untuk berlomba-lomba dalam kebaikan mulai dari awal hingga akhir ramadhan baik berupa ibadah-ibadah yang sifatnya mahdlah (hablum minallah) ataupun mualamalah (hablum minannas).
Pada bulan Ramadhan, seluruh umat muslim belajar untuk ikut merasakan penderitaan orang-orang yang kurang beruntung dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan menahan lapar dan dahaga selama 30 hari penuh. Tak hanya merasakan, tetapi pada bulan ini pun, Islam mewaijbkan umatnya untuk membayar zakat fitrah yang fungsinya sebagai pembersih diri setiap orang selama satu tahun penuh dan di sisi lain menjadi sumber rezeki bagi para mustahik.
Hal ini sebagai penekanan bahwa umat Islam harus membiasakan diri menempatkan tangan di atas untuk memberi kepada orang lain yang pantas menerimanya, seperti memberi sedekah dan memberi makan orang yang berpuasa. Tentang memberi makan orang yang berpuasa, Rasullullah SAW bersabda dalam sebuah hadits, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi).
Oleh karena itu, pada bulan Ramadhan orang-orang cenderung lebih senang dan mudah dalam memberi walaupun biasanya terjadi peningkatan konsumsi terhadap barang-barang. Banyak masjid-masjid atau para donatur perorangan yang menyediakan takjil gratis bagi siapapun yang sedang dalam perjalanan ataupun tidak. terutama bagi mahasiswa, hal ini biasanya telah menjadi kesempatan menghemat uang saku yang paling berhasil khusus di bulan Ramadhan.
Sikap saling berbagi di bulan Ramadhan bahkan telah menjadi kebiasaan bagi mayoritas umat muslim, seperti kegiatan Munggahan, yang biasa dilakukan ketika menyambut datang atau perginya ramadhan.
Dengan berbagi, maka setiap orang bisa meningkatkan rasa empati dan kepeduliannya terhadap keadaan orang-orang disekitarnya yang belum beruntung, dan itu lebih terasa pada saat bulan Ramadhan. Dengan membiasakan diri untuk bersedekah/berbagi kepada orang lain pada bulan Ramadhan, maka insya Allah hal itu akan terus dilakukan secara kontinu walaupun bulan Ramadhan telah berakhir.

Kamis, 20 Februari 2020

3. Pembelajaran abad ppt download

 MODEL-MODEL PEMBELAJARAN ABAD XXI

APA DAN MENGAPA PEMBELAJARAN ABAD XXI

Apa dan mengapa pembelajaran abad 21 perlu menjadi referensi para guru sebagai pendidik professional yang kesehariannya bergelut dengan upaya memfasilitasi pembelajaran yang terbaik bagi peserta didik. Pembelajaran merupakan upaya memfasilitasi peserta didik untuk mengalami proses belajar sehingga peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran abad 21 adalah upaya memfasilitasi peserta didik di abad 21 untuk mengalami pengalaman belajar terbaik sehingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Makna abad 21 melekat dengan kondisi peserta didik di abad ini.

Pada hakikatnya proses pendidikan diadakan untuk memfasilitasi anak mencapai tujuan tertentu. Diantara tujuan yang ingin dicapai adalah perkembangan pribadi anak dan kompetensi yang disyaratkan. Dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, tujuan pendidikan nasional diatur dalam UU sistem pendidikan nasional No. 20 tahun 2003 Bab II Pasal 3, yaitu:
…bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan di atas (UUSPN No. 20/2003) mengarah pada pertumbuhan pribadi anak. Tujuan pendidikan ini merupakan tujuan jangka panjang, sedangkan tujuan jangka pendek tertuang dalam standar kompetensi lulusan untuk masing-masing jenjang pendidikan.

Keberadaan tujuan-tujuan pendidikan tidak lepas dari kepentingan anak. Anak menjadi fokus utama penyelenggaraan pendidikan. Demikian halnya dengan tujuan pendidikan nasional. Tujuan pendidikan nasional ini bertumpu pada perkembangan pribadi anak sehingga anak mampu hidup dalam dunianya di masa depan. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pendidikan selalu dikaitkan dengan keberadaan anak dalam proses pendidikan dan masa depannya.

Pendidikan di zaman Belanda, kemerdeakaan, dan saat ini memiliki karakteristik yang khas sesuai dengan konteks yang ada pada saat itu. Demikian halnya pendidikan abad 21 itu memiliki karakteristik yang khas dan berbeda dengan abad sebelumnya. Apa yang membedakannya? Misal Tony Wagner dalam bukunya The Global Achievement Gap (2000) menyebutkan tujuh keterampilan yang harus dimiliki oleh para peserta didik di abad 21, yaitu:
1. Critical Thinking and Problem Solving
2. Collaboration across Networks and Leading by Influence
3. Agility and Adaptability
4. Initiative and Entrepreneurialism
5. Effective Oral and Written Communication
6. Accessing and Analyzing Information
7. Curiosity and Imagination

Keterampilan-keterampilan ini dinilai penting untuk dikuasai oleh anak untuk dapat hidup lebih baik di abad 21. Keterampilan ini dikaitkan dengan kondisi IPTEK, lingkungan (geografis, sosial, budaya, ekonomi), dan semakin ketatnya persaingan antar orang sedunia. Berdasarkan keterampilan yang harus dimiliki anak, pendidikan diarahkan supaya peserta didik dapat menguasai berbagai keterampilan yang dibutuhkan tersebut. Dengan demikian dapat dipahami bahwa pendidikan diselenggarakan supaya peserta didik mampu hidup di masa depan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa mengapa pendidikan abad 21 ini penting bagi pendidikan di Indonesia saat ini, karena pendidikan diselenggarakan untuk memfasilitasi anak supaya mereka dapat hidup lebih baik di masa yang akan dating, baik dari sisi sosial, budaya, ekonomi, maupun dari sisi lingkungan hidup. Jika peserta didik dididik dengan situasi dan kondisi masa lalu, maka anak akan sangat bingung untuk menghadapi lingkungannya di masa depan.

MODEL PEMBELAJARAN UNTUK ABAD XXI

Model pembelajaran secara sederhana diartikan cara atau teknik memfasilitasi anak untuk belajar yang terbaik. Cara/teknik yang digunakan oleh seorang guru bergantung pada: 1) karakteristik peserta didik, 2) karakteristik kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik, 3) daya dukung lingkungan belajar, termasuk ke dalam daya dukung adalah kemampuan guru dalam memfasilitasi pembelajaran anak. Model pembelajaran abad 21 merupakan cara/teknik yang digunakan guru untuk memfasilitasi pengaman belajar terbaik anak sesuai dengan kondisi anak, lingkungan belajar anak, dan daya dukung yang dimiliki. Untuk itu kita harus menguraikan apa yang menjadi karakteristik pembelajar abad 21 ini.

Pengkategorian karakteristik lainnya dikembangkan oleh http://www.education.alberta.ca yang mengidentifikasi karakteristik pembelajar abad 21 adalah: 1) sangat nyaman dengan globalisasi dan pengaruhnya terhadap bagaimana kita bekerja dan bersosialisasi. Mereka menampakkan sikap yang lebih santai dan terbuka terhadap lingkungan sosial yang dinamis di sekitarnya. 2) cenderung menunjukkan penerimaan dan toleransi yang tinggi terhadap orang lain. Mereka juga mengharapkan hal yang sama berupa keterbukaan, pilihan-pilihan, fleksibilitas baik di sekolah maupun di dunia kerja. 3) memiliki harapan yang tinggi terhadap relevansi dan makna kerja mereka. 4) memiliki hubungan yang erat dengan internet. 5) memiliki keterampilan belajar abad 21, yaitu: literasi dalam teknologi informasi dan komunikasi, kemampuan untuk berpikir dan memecahkan masalah, keterampilan interpersonal dan mengarahkan diri, kepedulian global, finansial, ekonomi, bisnis, dan melek kewarganegaraan. Dan 6) yang paling penting adalah bagaimana menjaga keberlanjutan belajar dalam kehidupan mereka.

Karakteristik pembelajar abad 21 ini menjadi penting untuk diketahui oleh para guru dan orang tua supaya dapat mengetahu bagaimana cara/teknik memfasilitasi pembelajarannya.

Cara/teknik pembelajaran yang digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran abad 21 ini meliputi:
1) pembelajaran yang berpusat pada peserta didik,
2) multi interaksi dalam proses pendidikan,
3) lingkungan belajar yang lebih luas,
4) peserta didik aktif menyelidiki dalam proses belajar,
5) apa yang dipelajari kontekstual dengan anak,
6) pembelajaran berbasis tim,
7) objek yang dipelajari relevan dengan kebutuhan anak,
8) semua indera anak didayagunakan dalam proses belajar,
9) menggunakan multimedia (khususnya ICT),
10) hubungan guru dengan siswa adalah kerjasama untuk belajar bersama,
11) peserta didik belajar sesuai dengan kebutuhan individual, sehingga layanan pembelajaran lebih individual juga,
12) kesadaran jamak (bukan individual),
13) multi displin,
14) otonomi dan kepercayaan,
15) mengembangkan pemikiran kreatif dan kritis,
16) guru dan siswa sama-sama saling belajar.
(Sumber: dikembangkan dari “Paradigma Pendidikan Abad 21”, BSNP, 2010).

Joyce, Weil, & Calhoun (2009-Edisi kedelapan) dalam bukunya Model of Teaching mengemukakan empat kelompok model pengajaran, yaitu kelompok: 1) model yang memproses informasi, 2) model interaksi sosial, 3) model pengajaran personal, 4) model sistem-sistem perilaku.

Pembelajaran Abad 21


Abad 21 ini sangat berbeda denga abad-abad sebelumnya. Dengan ditandai oleh dunia telekomunikasi dan informatika yang berkembang dengan cepat, abad 21 ini menuntut setiap orang harus memiliki kecakapan hidup yang baik. Kecakapan hidup yang membuat seseorang untuk bisa berkompetisi dalam setiap sektor kehidupan dengan baik dan profesional.

    Siapa yang bisa berkompetisi dengan baik, akan menjadi pemenangnya. Akan menjadi orang baik dan dihargai di abad 21 ini. Di sinilah, orang tua harus sejak awal mengenalkan dan mendidik anak-anak dalam kehidupan keluarga untuk memiliki kecakapan hidup yang dituntut pada abad 21 ini. Dan ada tiga kecapakan hidup penting yang peting dan harus diajarkan pada anak sejak dini dalam kehidupan keluarga. Tiga kecakapan hidup itu adalah sebagai berikut.

Pertama, kecakapan literasi. Era teknologi dan informatika membuat segala informasi dan ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat dan cepat. Setiap detik kejadian yang ada di penjuru dunia bisa diakses dengan mudah. Setiap perkembangan ilmu pengetahuan dapat diketahui dengan gampang. Di sinilah, sejak kecil anak-anak harus dikenalkan dan dibiasakan untuk memiliki kecakapan literasi yang baik. Melalui kecakapan literasi ini anak-anak sejak kecil sudah terbiasa dengan membaca. Kebiasaan membaca ini membuat anak-anak akan senang mengakses segala informasi dan pengetahuan yang beredar baik melalui buku-buku maupuan elektronik buku di internet. Kemampuan membaca yang baik anak membentuk anak yang memiliki pengetahuan luas, serta memiliki kemampuan untuk berpikir dalam memilih dan memilah informasi yang benar, baik, dan tepat untuk dirinya dan yang tidak. Kecakapan literasi ini akan membentuk anak yang memiliki ilmu pengetahuan luas.

Kedua, kecakapan kompetensi, yaitu kecakapan anak mengatasi segala persoalan yang dialami. Abad 21 ini membawa konsekuensi bahwa kehidupan anak-anak yang kompleks membawa anak-anak dalam berbagai persoalan, baik persoalan di rumah, di sekolah, dengan temannya, atau persoalan bagi dirinya sendiri. Dalam berbagai persoalan yang kompleks ini,abad 21 ini menuntut anak memiliki kompetensi dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi. Untuk itu, sejak kecil orang tua perlu mengajari kecakapan kompetensi pada anak dengan membekali berbagai keterampilan penting bagi anak, yang akan digunakan anak dalam mengatasi persoalan yang dihadapinya sendiri. Anak-anak didesain tangguh dan mandiri dan memiliki kompetensi yang baik untuk bisa mengatasi persoalan yang dihadapi dirinya sendiri. Dengan memiliki kompetensi ini, anak-anak sejak awal sudah siap untuk bersaing dan mampu mengatasi persoalan yang kompleks di abad 21 ini.

Ketiga, memiliki karakter yang kuat. Abad 21 memiliki berbagai persoalan yang kompleks yang sering kali membawa banyak dampak ketidakbaikan bagi kita semua. Dengan dampak yang seperti ini, maka abad 21 membutuhkan orang-orang yang memiliki karakter dan integritas yang kuat. Pribadi yang berkarakter mulia yang akan selalu tegar dalam setiap perubahan yang begitu cepat di abad 21 ini. Di sinilah, pembentukan karakter anak-anak yang baik dan mulai harus dibentuk dalam keluarga sedini mungkin. Anak-anak harus dibentuk menjadi pribadi yang mulia, mandiri, kreatif, kerja keras, komunikatif, dan sebagainya. Sehingga anak-anak dengan pribadi dan karakter yang kuat ini akan membuat anak-anak tidak larut dan terpengaruh dalam budaya abad 21 yang serba bebas ini. Anak-anak akan memiliki dirinya dan karakter mulianya sendiri yang mampu mengatasi segala persoalan degradasi moral di sekelilingnya.

   Melalui pendidikan kecakapan hidup abad 21 pada anak-anak dalam lingkungan keluarga ini, maka anak-anak sejak kecil anak-anak kita sedang dibentuk menjadi individu yang siap beradaptasi dan berkompetisi di abad 21 sehingga kelak menjadi orang yang unggul, dan mampu menjadi pemimpin di abad 21 iniem

Ada tujuh aspek yang telah dirumuskan mewakili nilai-nilai kemampuan pedagogik

  1. Menguasai Karakteristik Peserta Didik.
  2. Menguasai Teori Belajar dan Prinsip Pembelajaran yang Mendidik.
  3. Pengembangan Kurikulum.
  4. Kegiatan Pembelajaran yang Mendidik.
  5. Pengembangan Potensi Peserta Didik
  6. Komunikasi dengan Peserta Didik.
  7. Penilaian dan evaluasi

Senin, 05 Agustus 2019

TP Kutilang:        Yuk, Kenali Tanda-Tanda Anak Stunting Seja...

TP Kutilang:        
Yuk, Kenali Tanda-Tanda Anak Stunting Seja...
:         Yuk, Kenali Tanda-Tanda Anak Stunting Sejak Dini! Stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pen...


       

Yuk, Kenali Tanda-Tanda Anak Stunting Sejak Dini!

Stunting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan seseorang jauh lebih pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya. Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis sejak bayi dalam kandungan hingga masa awal anak lahir yang biasanya tampak setelah anak berusia 2 tahun. Lalu apa saja gejala atau tanda anak stunting?

Gejala dan tanda anak stunting

Tidak semua anak yang berperawakan lebih pendek mengalami stunting. Stunting merupakan keadaan tubuh yang sangat pendek dilihat dari standar baku pengukuran tinggi badan menurut usia berdasarkan standar WHO.
Menurut Kemenkes RI, balita pendek atau stunting bisa diketahui bila seorang balita sudah diukur panjang atau tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standar, dan hasil pengukurannya ini berada pada kisaran di bawah normal.
Seorang anak termasuk dalam stunting atau tidak ini tergantung dari hasil pengukuran tersebut. Jadi tidak bisa hanya dikira-kira atau ditebak saja tanpa pengukuran.
Selain tubuh berperawakan pendek dari anak seusianya, ada juga ciri-ciri lainnya yakni:
  • Pertumbuhan melambat
  • Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya
  • Pertumbuhan gigi terlambat
  • Performa buruk pada kemampuan fokus dan memori belajarnya
  • Pubertas terlambat
  • Usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam, tidak banyak melakukan kontak mata terhadap orang di sekitarnya

Apa saja faktor yang memengaruhi anak stunting?

  • Utamanya, faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil dan anak balita.
  • Kurangnya pengetahuan ibu mengenai gizi sebelum hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan.
  • Terbatasnya akses pelayanan kesehatan, termasuk layanan kehamilan dan postnatal (setelah melahirkan).
  • Kurangnya akses air bersih dan sanitasi.
  • Masih kurangnya akses makanan bergizi karena tergolong mahal.

Lantas apa dampaknya stunting?

Stunting adalah kegagalan pertumbuhan akibat akumulasi ketidakcukupan zat gizi yang berlangsung lama dari kehamilan sampai usia 24 bulan. Maka itu, kondisi ini bisa memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak secara keseluruhan.
Dampak jangka pendek stunting adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pada pertumbuhan fisiknya, serta gangguan metabolisme.
Dampak jangka panjangnya, stunting yang tidak ditangani dengan baik sedini mungkin akan menurunkan kemampuan kognitif otak, kekebalan tubuh lemah sehingga mudah sakit, dan risiko tinggi munculnya penyakit metabolik seperti kegemukan, penyakit jantung, dan penyakit pembuluh darah.